Menulis ilmiah populer di media massa

7 Komentar

Menulis ilmiah populerdi media massa
Sebuah catatan pengalaman

Yanuar Nugroho

http://ynugroho.multiply.com

http://audentis.wordpress.comr

Tulisan ilmiah populer -1

1.Apa yang mau ditulis? Jangan menulis klise.

2.Tulisan ilmiah populer bersifat analitis. Bukan deskriptif.

3.Sampaikan satu hal dalam satu tulisan. Bukan dua.

Apalagi tiga.

4.Yang ideal: hal baru, gagasan baru, teori baru,

perspektif baru …Tapi yang ideal biasanya sulit dijangkau.

5.Kata kunci: perspektifbaru, bukan usang. Teori, gagasan,

kejadian, …bisa lama, tetapi perspektifnya harusbaru.

Tulisan ilmiah populer -2

6.Karena itu, sampaikan hal yang penting, yang signifikan.

Isi, bukan kulit. Gagasan, bukan cara. Kecuali bicara soal cara atau kulit itu sendiri.

7.Beri ‘hook’–kaitan dengan aktualita. Aktual tidak samadengan genting. Untuk memberi perspektif ilmiah atas yang genting/mendesak, media biasanya sudah punya “stok”orang. Ini bukan jatah pemula/penulis yang belum ‘dikenal’oleh media.

8.Apa relevansitulisan dengan konteks sosial, ekonomi,

budaya, agama, teknologi, ideologi, dll.?

Tulisan ilmiah populer -3

9.Sampaikan hal yang logis. Beri data akurat dan tunjukkan alurberpikir.

Ini yang membedakan tulisan ‘sampah’atau bukan.

Dimeja redaksi, selain folder“muat-revisi”, ada duafolderlain: “sampah-buang”dan “kembalikan-

komentar”.

Sekali masuk ke tong ‘sampah’, sulit bisa mendapat kepercayaan lagi. Jangan menulis sampah. Jika tak yakin, lebih baik tak usah menulis. Atau kirim ke mediayang‘lebih longgar’(sic!)

10.Jangan men-SPAM. Tapi me-‘recycle’OK

Memahami media

11.Media yang baik memberi komentar dan indikasi penerimaan (belum tentu pemuatan) artikel yangdikirim. Jikadalam satu bulan tak adaindikasi/kabar, lupakan. Kirim ke media lain.

Jika menerima komentar:

Artikel anda menarik, namun kami kesulitan tempat memuat kesulitan–artinya tidak menarik

Artikel anda menarik, namun (penulisannya) terlalu berat (ilmiah) –

artinya tidak menarik

Artikel anda menarik, namun tidak aktual–artinya tidak menarik

Artikel anda menarik, namun tidak relevan –artinya tidak menarik

Artikel anda menarik, namun tidak cukup dielaborasi –artinya tidak menarik

Redaksi media bukan reviewer jurnal. Mereka tidakakan mengirimkan komentar dengan harapan penulis memperbaiki sebagian (signifikan) tulisan.

Redaksi ingin artikel yang ‘tigaperempat matang’. Dalam banyak hal, redaksi akan mengedit sendiri dan tidak meminta penulis memperbaiki. Jadi, memang sudahharus menarik sejak awal.

Menulis …?

12.Tulis dengan ringan. Ringan tidak sama dengan dangkal.

13.Tulis dengan mengalir.

14.Gaya bahasa. Seni pikatan.

15.Gaya bertutur. Seni berargumen

16.‘Parole’–‘langue’

17.Bahasa Indonesia –umumnya 1200-1500 kata. EYD

18.Bahasa Inggris –umumnya 800-1000 kata. “s”–“z”–

“of”–perhatikan selera media: British –American?

19.Jangan menulis tulisan bersambung sebelum tujuh (atau tujuh belas, atau dua puluh tujuh) tulisan dimuat secara berturut-turut dimedia yang sama

Menulis …??

20.Baca dan perbaiki. Baca dan perbaiki sekali lagi.

21.Minta orang lain membaca. Sekali. Tanya apa yang dia pahami dan apa kesannya.

22.Revisi minmal dua kali lagi.

23.Kawan = peerpenulisan

Menulis …???

24.Cakupan media: lokal –nasional –

internasional?

25.‘Ideologi’media: generalis –sektarian?

(Pertimbangkan: ‘kapitalis’–‘sosialis’,

‘nasionalis’–‘agamis’)

26.‘Cara berpikir’media: mainstream –alternatif?

27.‘Kedalaman’media: fundamental –superfisial?

28.Jenis media: Koran –majalah –tabloid –

bulletin?

29.Jenis publikasi: online –cetak?

30.Kolom: opini –review –feature?

Media baru (!)

31.New media: internet based –open publishing

32.Wikimu, kabarindonesia, okezone, dll.

33.Blog

Diskusi –Mencoba menulis …

Kesulitan untuk mulai menulis?

Kesulitan ketika menulis?

Kesulitan untuk mengakhiri tulisan?

Kesulitan menjaga ukuran tulisan?

***

 

Media Massa

1 Komentar

Bengkel Jurnalistik

Manchester, 21 April 2007

Media Massa

Oleh Asyari Usman

Pendahuluan

Tak terbayangkan kehidupan di dunia ini tanpa sarana penyiaran berita, tanpa pelapor berita, tanpa wartawan, tanpa suratkabar, tanpa jurufoto, tanpa televisi, tanpa jurukamera, tanpa radio, dan sekarang tanpa internet. Singkatnya, tanpa keberadaan komunikasi massa, yang lebih popular dengan istilah ‘media massa’.

Bayangkan seandainya serbuan Amerika terhadap Irak, di tengah ketiadaan media massa, baru diketahui dua minggu atau sebulan kemudian dari cerita mulut ke mulut. Barangkali reaksi masyarakat internasional tidak akan sekeras yang kita lihat tempohari. Namun, karena ekseistensi media massa plus perkembangan teknologi komunikasi-informasi yang begitu pesat, hampir semua peristiwa di mana pun di dunia ini bisa tersebar luas beritanya dalam hitungan menit, kalau tidak detik.

Apa itu Media Massa

Dari segi etimologis, ‘media massa’ adalah ‘komunikasi massa’ –komunikasi massa adalah sebutan yang lumrah di kalangan akademis untuk studi ‘media massa’.

Dari segi makna, ‘media massa’ adalah alat/sarana untuk menyebar-luaskan berita, analisis, opini, komentar, materi pendidikan dan hiburan.

Peranan Media Massa

Salah satu peranan media adalah mempengaruhi sikap dan perilaku orang/public. McDevitt (1996: 270) mengatakan, “Media cukup efektif dalam membangun kesadaran warga mengenai suatu masalah (isu).” Lindsey (1994: 163) berpendapat, “Media memiliki peran sentral dalam menyaring informasi dan membentuk opini masyarakata.” Sedangkan para pemikir sosial seperti Louis Wirth dan Talcott Parsons menekankan pentingnya media massa sebagai alat kontrol sosial.

Ketika menyerbu Irak pada bulan Maret 2003, salah satu unit penting yang disiapkan oleh militer Amerika Serikat adalah ‘media centre’ yang berada satu atap dengan Command and Control Centre di Qatar. Dari media centre ini, militer Amerika secara berkala memberika penjelasan tentang operasi mereka. Pemerintah Bush sadar betul bahwa unit ini, dalam banyak hal, akan membantu posisi politik mereka –baik di dalam negeri, maupun di mata dunia. Jadi, AS melancarkan perang simultan: perang piranti keras (hardware) berupa pengerahan perangkat militer, dan perang piranti lunak (software) –dalam hal ini ‘perang media massa’.

Para pemegang kekuasaan menyadari betul bahwa media massa, wartawan, jurukamera, jurufoto, perlu ‘dijadikan teman’ karena mereka memegang senjata yang jauh lebih penting dari perangkat perang yang mereka kerahkan di Irak, Afghanistan, Bosnia, dsb.

Tak sampai seminggu lalu, Presiden SBY mengundang para wartawan untuk ‘makan durian’ di satu kebun durian tak jauh dari Bogor. Apakah ini pul-kumpul omong kosong belaka? Tentu tidak. Para penasihat SBY tahu persis bahwa ‘mesin pencitraan 2009’ harus mulai bekerja sekarang dengan memanfaatkan media massa. SBY harus sudah mulai sering tampil di layar TV, terdengar di radio, terpampang di suratkabar, majalah, dsb. Sebab, pemilihan presiden 2009 ‘tidak lama lagi’.

Kemudian, kita lihat begitu banyak universitas, akademi, sekolah tinggi, pesantren, kursus-kursus, dll, yang mengiklankan diri di berbagai jenis media massa menjelang masa penerimaan mahasiswa baru. Ini semua mereka lakukan karena kesadaran bahwa media massa berperan penting untuk menjaring calon mahasiswa.

Segelintir contoh di atas terjadi karena kesadaran akan besarnya peranan media massa.

Kekuatan Media Massa

Yang paling menarik dari operasi media massa adalah dampak yang ditimbulkannya terhadap cara orang bereaksi setelah menerima berita/informasi.

Ketika seluruh dunia tahu lewat media bahwa senjata pemusnah massal dan uranium tidak ditemukan di Irak, berita ini memicu protes/demo besar di seluruh pelosok dunia. Pemerintah Bush kalang kabut menjelaskan ‘alasan lain’ untuk menyerbu Irak. Mereka cari-cari kaitan antara Saddam Hussein dan al-Qaeda atau terorisme, walaupun badan-badan intelijen mereka sendiri mengatakan tidak ada hubungan itu.

Begitu penyiksaan di penjara Abu Ghraib, Baghdad, tersiar ke seluruh dunia, Washington sangat terpojok, sangat malu. Foto-foto dan footage televisi tentang berbagai adegan penganiayaan di penjara ini yang tersiar ke seluruh dunia, yang dimulai oleh acara berita “60 Minutes II” televisi Amerika pada 28 April 2004, membuat kredibilitas AS dan para sekutunya menjadi runtuh total. Sebagian pengeritik politik luarnegeri AS mengatakan, Abu Ghraib merupakan cerminan dari sikap dan kebijakan Amerika keseluruhan yang tidak menghargai dan selalu melakukan tindak kekerasan terhadap orang Arab.

Berita penyiksaan di Guantanamo dan tidak adanya akses legal para tahanan di situ, juga memojokkan Washington. Pemerintah Bush dicela keras oleh politisi dan lembaga-lembaga HAM. Liputan media memaksa Amerika untuk berwajah lebih manis terhadap para tahanan.

Berita, analisis dan komentar tentang jumlah korban tewas tentara Amerika di Irak yang menembus angka 3,000, membuat ‘approval rate’ Presiden George W Bush turun ke tingkat terendah.

Laporan tentang kehancuran luarbiasa di Libanon akibat gempuran Israel ketika berperang dengan Hizbullah, membuat opini internasional melihat Israel bertindak berlebihan. Sebaliknya, pemberitaan perang ini membuat pemimpin Hizbullah Libanon, Hassan Nasrallah, menjadi sangat populer di kalangan rakyat Timur Tengah.

Contoh lain, Tony Blair mengalami krisis politik berkali-kali ketika berbagai skandal di tubuh pemerintahnya disiarkan oleh media massa. Menteri transportasi Stephen Byers mundur setelah berbulan-bulan menjadi bahan pemberitaan karena mempertahankan spin-doctor-nya, Jo Moore, yang menulis email pada tanggal 11 September 2001 bahwa “ini merupakan hari yang bagus untuk mengubur berita buruk tentang kondisi angkutan umum”.

Laporan media yang sangat ekstensif tentang kasus cash for honour (sumbang Partai Buruh utk dapatkan gelar kerajaan) membuat Blair dilanda krisis paling berat selama kekuasaannya.

Ratu Elizabeth terpaksa tampil di televisi untuk menyampaikan pidato istimewa untuk menghormati Putri Diana yang tewas dalam kecelakaan mobil di Paris, akhir Agustus 1997. Ratu terpaksa berpidato setelah selama berhari-hari media massa, khususnya siaran langsung televisi, menunjukkan ratusan ribu pelayat yang meletakkan karangan bunga sepanjang lebih satu kilometer mulai gerbang Kensington Palace, kediaman Lady Di.

Footage dan gambar-gambar yang menunjukkan amukan tsunami di Aceh membuat orang dari seluruh dunia memberikan sumbangan dana dalam jumlah besar. Di Inggris, langsung berdiri Disaster Emergency Committee (DEC) yang berhasil mengumpulkan dana lebih 300 juta poundsterling. Bantuan untuk Aceh datang dari mana-mana. Ini semua adalah dampak pemberitaan media massa.

Kasus bully di acara Big Brother Channel 4 membuat Jady Good terperosok jauh ke dalam Lumpur celaan, dan acara itu sendiri dikritik habis oleh berbagai pihak. Sang korban bully, Shilpa Shetti, sebaliknya menjadi terangkat dan dikejar-kejar oleh televisi untuk wawancara eksklusif (dengan bayaran besar, tentunya). Menyusul kasus ini, perdebatan mengenai rasisme pun kembali menghangat di berbagai jenis media.

Yahya Zaini akhirnya kehilangan status dan pekerjaan sebagai anggota DPR setelah footage porno-nya bersama pedangdut Eva Maria tersiar ke seluruh dunia. [Mesin pelintir Golkar berusaha mengalihkan perhatian dengan cara mempersoalkan sisi pidana dari penyebaran footage itu, namun tidak berhasil.]

Dua menteri SBY, Yusril Ihza Mahendra dan Hamid Awaluddin, sedang berada dalam posisi yang terpojok setelah tersiar luas kisah pencairan uang Tommy Suharto di luarnegeri dengan menggunakan rekening departemen hukum dan HAM di tahun 2004.

Banyak lagi contoh tentang dampak pemberitaan/penyiaran media massa. David Beckham menjadi ikon sepakbola dan terkenal ke seluruh dunia, terutama di kalangan anak-anak muda, karena dibesarkan oleh media (Inggeris). Koran-koran dan majalah terus-menerus mengikuti perjalanan Beckham dan isterinya. Padahal, banyak pemain bola lain yang lebih hebat dari Beckham, tetapi tidak terkenal karena tidak ada “dukungan” dari media. Sebagai dampak sampingan dari kemashuran ini, Beckham pun digunakan sebagai bintang iklan. Keterkenalan ini pula yang membuat dia dikontrak sebesar $250 juta dollar oleh klub sepakbola Galaxy di Los Angeles.

Segitiga Media-Politik-Publik

Peranan media massa lebih diperkuat oleh kemajuan pesat dalam penemuan teknologi komunikasi. Yang terjadi beberapa menit yang lalu bisa langsung dilihat rekaman gambar (footage)-nya di televisi atau situs-situs berita yang menyediakan podcats; atau foto-foto biasa di suratkabar maupun situs berita.

Begitu kuatnya peranan media massa, pada era sekarang ini para politisi di seluruh dunia menjadikan kampanye media sebagai prioritas utama dalam daftar strategi mereka. Kampanye politik (political broadcast) di televisi bisa mempengaruhi massa dalam menentukan pilihan. Dan, kalau sutradara (spin-doctor) seorang politisi mampu menangkap selera publik, serta paham betul bagaimana menampilkan sang politisi di layar TV, maka semakin besar kemungkinan masyarakat akan bereaksi positif.

Dalam posisi yang seharusnya independen, media akan ‘membantu’ masyarakat untuk memahami berbagai peristiwa, termasuk memahami peta politik dan program-program partai. Media akan menjelaskan siapa dan apa di dunia politik.

Akan tetapi, dalam batas tertentu media ‘memerlukan’ para aktor politik, ekonomi, sosial, budaya. Sebab, mereka inilah yang banyak menentukan arah kehidupan massa; merekalah yang menjadi sumber berita (news-maker). Karena itu, para presiden, perdana menteri, kepala pemerintahan, menteri keuangan, pengusaha dan perusahaan besar, tokoh masyarakat, perancang mode, para aktor/aktris, seniman, dlsb, selalu diikuti oleh media.

Selain itu, media sendiri tidak lepas dari masalah dana operasional. Suratkabar, majalah, televisi, dan radio memerlukan biaya yang cukup besar untuk menjalankan fungsinya. Media cetak dan televisi terutama, belakangan ini berubah menjadi bisnis besar. Stasiun-stasiun komersial dimiliki oleh perusahaan raksasa multinasional. Kenyataan ini memicu tuduhan bahwa media yang dikuasai pemodal besar itu beroperasi tidak dengan prinsip ‘impartial’ (tidak memihak).

Di celah-celah kepemilikan korporasi besar itu, di sana-sini masih ada media cetak dan televisi maupun radio yang berdiri netral, atau bahkan ‘memihak’ akar rumput.

Karena itulah, di kalangan media massa sekarang ini terjadi polarisasi ideologis. Yang satu disebut ‘media kanan’ dan yang lainnya ‘media kiri’.

Di Inggris, misalnya, para pemerhati mengelompokkan The Sun, Sky News (BskyB), Daily Telegraph antara lainnya sebagai ‘media kanan’, sedangkan The Guardian, The Independent, Daily Mirror sebagai ‘media kiri’.

Polarisasi ideologis ini bisa melahirkan “kolaborasi lepas” antara sejumlah media dan penguasa. Di Inggris, kelompok Rupert Murdoch menyatakan dukungan untuk Tony Blair sebelum pemilihan umum 1997 sampai sekarang. Di Amerika, beberapa saluran televisi seperti FoxNews terang-terangan memihak Presiden Bush.

Di Indonesia, banyak orang yakin bahwa sejumlah media mendukung SBY. Tetapi, fragmentasinya lebih beragam lagi. Misalnya, ada media yang mendukung partai-partai tertentu.

Polarisasi ini pada akhirnya bisa merugikan masyarakat. Sebab, kalau ada sejumlah media besar memihak penguasa, akan sulit untuk mengharapkan fungsi kontrol mereka. Publik sangat bergantung pada media massa dalam memilih informasi, meletakkannya dalam bingkai yang benar, dan kemudian memberikan analisis.

Itulah sebabnya, dalam “Segitiga Media-Politik-Publik”, posisi media akan sangat menentukan. Media milik publik (dus, bekerja untuk masyarakat), akan membuat penguasa terkontrol ketat. Sebaliknya, media yang terkooptasi oleh penguasa akan membuat masyarakat kebingungan atau keliru dalam menentukan pilihan mereka.

Anda dan Media

Salah satu tujuan Bengkel Jurnalistik ini adalah untuk mencari peluang mempromosikan gagasan, karya atau penemuan anda lewat media massa. Keinginan ini tidaklah berlebihan karena karya dan temuan anda akan lebih cepat tersebar ke masyarakat bila diterbitkan/ditayangkan oleh media.

Saya melihat ada beberapa faktor kunci untuk itu. Pertama, daya jual karya anda. Kedua, relevansi karya anda itu dengan kehidupan masyarakat luas. Ketiga, simplisitas karya tulis anda. Keempat, koneksi anda dengan orang-orang di media. Faktor keempat ini bahkan bisa melemahkan ketiga faktor lainnya.

Di Indonesia, banyak penulis yang menjadi top melalui koneksi di koran atau majalah.

Kalau karya tulis anda relevan dengan salah satu segmen di suatu media cetak dan topikal, katakanlah rubrik ekonomi, hukum, teknologi, kesehatan, agama, dsb, biasanya tidak ada hambatan untuk dipublikasikan.

Begitu anda bisa menembus sebuah penerbitan, biasanya artikel-artikel berikutnya tidak akan sulit. Dari dari sinilah seorag penulis akan membangun kredibilitasnya, dan dari sini pula seorang penulis memulai popularitasnya.

Bila ini menjadi kenyataan, maka dalam batas tertentu anda sudah bisa disebut “menguasai media massa”. Expertise anda akan mendikte media.

Selamat Berjuang!

Kiat Menulis Artikel Iptek di Media

1 Komentar

HAMPIR setiap suratkabar harian dan mingguan memuat berita-berita dan artikel populer ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan dekade sebelumnya, berita dan tulisan iptek tidak lagi dipandang sebagai suatu yang eksklusif, tetapi sudah menjadi bacaan bagi masyarakat luas. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didorong oleh teknologi informasi seperti Internet, berhasil menggugah keingintahuan masyarakat terhadap sains.

Belum lagi peristiwa-peristiwa alam, mulai dari banjir, gempa bumi, wabah penyakit, hingga kecelakaan pesawat terbang, yang semuanya itu bisa dijelaskan melalui pendekatan sains, membuat masyarakat mulai akrab misalnya dengan istilah daya dukung lingkungan (carrying capacity), daerah tangkapan air (DTA), retakan bawah di permukaan bumi, evolusi virus, hingga istilah-istilah teknis dalam penerbangan (aviation). Masyarakat ingin tahu lebih banyak soal itu dengan tujuan bisa melakukan antisipasi jika suatu saat hal itu dialaminya sendiri.

Maka tidaklah mengherankan, media massa terus mencoba memenuhi kebutuhan pembacanya akan sajian-sajian Iptek. Dengan intensitas dan visi redaksional yang berbeda-beda, setiap media akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan Iptek sesuai selera dan segmen pembacanya. Namun, dalam fungsinya sebagai media massa – dan bukan sebagai jurnal ilmiah untuk komunitas ilmuwan tertentu saja – tulisan-tulisan tersebut tentulah ditampilkan dengan bahasa dan gaya penulisan yang populer.

Jika berita-berita Iptek – yang bisa berupa laporan peristiwa, wawancara maupun hasil penelitian para ilmuwan dan peneliti – disiapkan oleh redaksi media massa itu sendiri, sebaliknya artikel iptek berasal dari luar media, yakni dari para penulis, peneliti, ilmuwan, dan pencinta iptek. Berbeda dengan umumnya staf redaksi media yang lebih berbekal pengalaman riset, wawancara dan reportase di lapangan, kalangan penulis luar ini berasal dari disiplin ilmu dan latar pendidikan yang memadai. Mereka ini adalah ilmuwan itu sendiri. Karenanya, para penulis ini dituntut menulis lebih mendalam, tajam, akurat, dan tentu saja dengan gaya penulis yang populer sehingga lebih mudah dimengerti masyarakat luas.

Media massa nasional misalnya, pada umumnya menyediakan tempat yang luas untuk pemuatan artikel-artikel iptek populer ini. Namun masalahnya, mereka kesulitan mendapatkan artikel iptek yang menarik dari segi topik, baru dari segi sudut pandang (angle) dan aktual dari segi peristiwanya. Tidak sedikit artikel-artikel yang bagus dari sisi kajiannya, tapi tak bisa dimuat karena sama sekali tidak relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Bagi para peneliti dan ilmuwan yang ingin tulisannya dimuat di media massa, kecermatan memperhatikan kriteria artikel yang layak muat sangat diperlukan. Sebetulnya hal itu bisa dipelajari sendiri dengan cara mencermati artikel-artikel yang sudah dimuat. Coba perhatikan, kira-kira apa yang menarik dari artikel yang sedang Anda baca itu sehingga dimuat di suratkabar?

Berikut beberapa kriteria utama bagi artikel-artikel iptek yang bisa dipertimbangkan untuk dimuat:

Aktual. Hal pertama yang diperhatikan redaktur media ketika menerima kiriman artikel adalah aktualitasnya. Adakah newspeg-nya? Adakah cantolan aktualitasnya pada peristiwa atau kegiatan yang sudah dan sedang berlangsung? Newspeg ini bisa berupa peristiwa itu sendiri, misalnya wabah demam berdarah, banjir, pendaratan wahana robotik di Mars atau bisa juga berupa aktivitas ilmiah seperti adanya kongres ilmuwan nasional maupun dunia mengenai suatu topik ilmu. Peristiwa penganugerahan Hadiah Nobel juga bisa dijadikan peg, bisa ke peristiwanya sendiri, atau terkait pada temuan ataupun biografi para pemenang Nobel itu sendiri. Jadi, jika “tidak ada angin, tidak ada ribut” tiba-tiba Anda menulis tentang bioteknologi misalnya, tulisan Anda tidak akan berada pada daftar prioritas yang akan dimuat. Jika tulisan Anda tentang bioteknologi ini benar-benar bagus, tapi tidak aktual, ada kalanya redaktur menyimpannya dulu sambil menunggu peg-nya, baru kemudian dimuat. Tapi ini jarang sekali terjadi, sebab begitu tulisan Anda dinilai tidak aktual, biasanya segera diputuskan untuk tidak dimuat atau dikembalikan kepada Anda
Mengandung unsur baru. Jika tulisan Anda sudah aktual, hal lain yang akan diperhatikan redaktur adalah adakah unsur baru dalam tulisan tersebut. Unsur baru ini bisa dilihat dari angle (sudut pandang) tulisan – dalam penulisan karya ilmiah angle ini mungkin mirip dengan perumusan masalah – maupun data-data dan informasi baru yang disajikan. Apakah angle tulisan Anda menarik atau tidak? Sekarang kita ambil contoh. Taruhlah Anda ingin menulis soal wabah flu burung. Jika Anda mengambil angle soal karakteristik flu burung ini, angle serupa pasti banyak dipilih oleh penulis lain. Akibatnya, tulisan Anda harus bersaing dengan para penulis lain, syukur-syukur bisa lolos. Namun, jika Anda memilih angle yang lain, yang menurut Anda pasti tidak banyak diperhatikan oleh penulis lain, berarti Anda sudah selangkah lebih maju dan kemungkinan tulisan Anda untuk dimuat tentu lebih besar lagi. Lalu, seperti apa misalnya angle yang tampil beda itu? Banyak sekali. Anda misalnya, bisa memilih angle evolusi yang sedang berlangsung. Jika dulu, virus tertentu hanya bisa berpindah antara sesama hewan, kini sudah terjadi perpindahan antara hewan dan manusia dengna merujuk ada kasus mad cow, SARS dan flu burung (jadi wabah SARS atau flu burung sebagai peg saja). Jika Anda berhasil mengungkapkan argumen yang meyakinkan soal evolusi virus, akan sulit bagi redaktur untuk tidak memuat tulisan Anda.
Kerangka atau sistematika tulisan. Secara substansial, tidak ada perbedaan antara kerangka penulisan artikel iptek populer dengan artikel ilmiah; setidaknya mengandung tiga komponen utama, yakni pendahuluan, bagian isi dan bagian akhir yang berisi kesimpulan dan saran. Namun untuk artikel iptek populer, pemisahan itu sengaja dibuat tidak begitu nyata. Artinya, Anda tidak perlu menulis sub-judul dalam tulisan dengan Pendahuluan, Isi dan Penutup, tetapi bisa Anda ganti sub-judul lain yang lebih menarik, tapi tetap mengandung ketiga komponen di atas. Makin rajin Anda menulis artikel populer, pasti Anda akan terbiasa dengan dengan struktur penulisan yang sesungguhnya tidaklah asing bagi Anda.
Gaya penulisan. Jika tulisan Anda sudah aktual dan mengandung unsur baru, langkah berikutnya yang harus diperhatikan adalah gaya penulisan. Sering kali tulisan yang menarik tapi harus ditolak hanya karena gaya penulisannya sangat “academic-heavy” dan dipenuhi dengan istilah-istilah yang tak disertai padanannya dalam bahasa Indonesia. Anda harus membayangkan, redaktur tidak punya banyak waktu untuk mengedit kembali tulisan Anda, jadi dia cenderung akan memuat tulisan yang sudah jadi dan siap muat saja. Karenanya, cobalah tulis gagasan dan pemikiran Anda dalam bahasa yang sederhana, populer dan hidup. Tempatkan diri Anda sebagai pembaca awam ketika Anda sedang memeriksa hasil akhir tulisan Anda. Kalau Anda merasa istilah yang digunakan masih terlalu “berat”, carilah padanan lain yang yang lebih pas – tentunya dengan tidak mengurangi makna ilmiah yang sebenarnya.
Bahan pendukung. Jangan lupa melengkapi tulisan Anda dengan dengan bahan, foto, gambar, grafik, ilustrasi dan tabel pendukung. Ingat, sebagai artikel iptek, Anda tentu berurusan dengan data, skema, angka, rumus dan referensi tertentu, yang dapat mendukung argumen Anda dalam tulisan tersebut dan Anda merasa hal itu penting untuk diketahui masyarakat.
Untuk menyiasati hal di atas, memang harus dimulai dari diri Anda sendiri. Tidak mungkin Anda bisa mendapatkan topik tulisan yang aktual jika Anda tidak mengikuti perkembangan yang terjadi. Jadi cobalah untuk mengkliping berita maupun tulisan yang menarik dan cocok dengan minat Anda. Semakin kaya referensi yang Anda gunakan, akan semakin hidup dan menatik tulisan yang Anda sajikan.

Selain itu, hal-hal nonteknis juga berperan dalam mendorong bermunculannya penulis-penulis iptek andal. Anda harus punya motivasi yang kuat untuk menulis di media massa, karena ini merupakan salah satu cermin tanggungjawab moral Anda sebagai ilmuwan dan peneliti. Sampaikanlah ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan disimpan di dalam laci saja.

Setelah memiliki motivasi, hal lain yang harus Anda miliki adalah ambisi dan militansi. Ambisi dan militansi akan membuat motivasi Anda menjadi efektif dan bisa digerakkan. Ketika Anda ingin menulis sesuatu karena topik tersebut memang sangat hangat, lakukanlah segera, dan jangan menunda-nundanya. Bagaimana pun, proses penerimaan naskah, pemeriksaan dan pemuatan oleh redaksi, setidaknya membutuh waktu paling cepat dua-tiga hari. Jadi Anda harus berburu waktu untuk menghindari tulisan Anda tidak jadi basi.

Dengan militansi yang tinggi, kendala-kendala seperti kesibukan mengajar, meneliti atau mengurusi jurusan, sama sekali tidak akan menghalangi langkah Anda untuk menjadi penulis iptek yang andal. Dengan militansi yang tinggi, Anda juga tidak perlu merasa kecewa jika tulisan Anda ditolak, tapi mestinya akan terus memacu Anda untuk menulis lebih baik lagi. Anda tentu pernah membaca, tidak sedikit penulis-penulis yang terkenal saat ini, ketika memulai aktivitas menulisnya, menemukan kenyataan tidak sedikit tulisan-tulisannya yang dikirim ke media yang ditolak redaksi.

Ketika tulisan-tulisan Anda dimuat di media massa, sesungguhnya banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh. Selain masyarakat mendapatkan manfaat setelah membacanya, Anda juga akan dikenal luas, bisa pula menambah credit point (Kum) bagi dosen untuk naik pangkat, dan Anda juga dapat sejumlah uang karena memang ada honornya.

Jadi? Tidak ada resep ampuh apapun agar dapat menjadi penulis iptek terkenal, selain dengan memulainya dari sekarang!

Sumber: Blog Jurnalisme

Tips-sederhana penulisan artikel nonfiksi

2 Komentar

Bagi saya pribadi, menulis artikel nonfiksi justru lebih mudah ketimbang fiksi (cerpen, novel, dst). Entah kenapa, saya sendiri tidak tahu. Tapi walau begitu, saya ingin menjadi penulis fiksi dan nonfiksi sekaligus, karena keduanya punya keunggulan masing-masing.

Untuk artikel nonfiksi, menurut saya, kiat dasarnya cukup sederhana. Kita hanya membutuhkan “bahan dasar” sebagai berikut:

  1. Ide
  2. Berpikir sistematis
  3. Data (ini cukup relatif, karena ada juga artikel yang bisa ditulis tanpa harus mencari data)
  4. Fokus pada masalah. Jangan suka melebarkan topik ke mana-mana.

Jika keempat poin ini sudah kita miliki, maka Insya Allah, menulis nonfiksi bisa menjadi pekerjaan yang sangat mudah.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari contoh sederhana ini.

1. Ide
Ide itu ada di mana-mana. Kali ini, kita mengambil contoh ide yang sederhana saja, yakni: “saya ingin membaca buku sebanyak-banyaknya, tapi saya tidak punya waktu dan tidak punya uang untuk membeli buku yang banyak.”

Nah, ini adalah ide yang cukup bagus dan bisa kita angkat menjadi sebuah tulisan. Di dalam ide ini terdapat sebuah masalah yang dapat kita kembangkan nantinya.

2. Berpikir sistematis
Setelah idenya ketemu, saatnya kita berpikir sistematis. Menurut saya, berpikir sistematis ini penting sekali. Salah satu kegagalan para penulis pemula adalah: mereka belum terbiasa berpikir secara sistematis. Akibatnya, mereka punya ide, tapi bingung harus mulai dari mana, bagaimaan cara mengembangkannya, dan seterusnya. Karena itu, kalau kita ingin jadi seorang penulis nonfiksi yang berhasil, cobalah mulai berlatih berpikir sistematis. Begitu ada ide, kita analisis dia secara runut, poin per poin, langkah demi langkah.

Dari contoh di atas, mari kita coba mengembangkannya berdasarkan pemikiran yang sistematis:

  • Saya berpendapat bahwa membaca itu sangat penting. Karena itu, saya harus membaca buku sebanyak-banyaknya.
  • Apa saja sih, manfaat membaca buku itu?
  • Kendala #01: Saya tak punya waktu yang banyak. Saya kan sibuk, banyak kerjaan, dst…
  • Kendala #02: Uang saya terbatas, sehingga saya tidak bisa membeli buku yang banyak.
  • Alternatif pemecahan masalah:
    1. Pinjam di perpustakaan.
    2. Pinjam buku ke teman. Perluas pergaulan sehingga makin banyak teman yang bisa meminjamkan buku.
    3. Membaca ketika dalam perjalanan.
    4. Membaca di sela-sela tugas kantor.
    5. Sering-sering browsing di internet,
    6. Dan seterusnya.
  • Pembahasan terhadap “alternatif pemecahan masalah”:
    • Tentang pinjam di perpustakaan: Wah, tidak bisa! Saya juga tak punya waktu untuk minjam ke perpustakaan. Lagipula, saya seringkali belum membaca bukunya, padahal sudah saatnya dikembalikan lagi.
    • Tentang pinjam ke teman: wah, teman saya sedikit. Saya kan orangnya kuper.
    • dan seterusnya…
  • Pemecahan masalah secara menyeluruh
  • Kesimpulan

Nah, dari sistem berpikir sistematis tersebut, kita sudah menemukan KERANGKA KARANGAN. Ya, kerangka karangan ini sangat penting, karena dari sini kita bisa mengembangkan tulisan. Kerangka tulisan ini bisa kita tulis di kertas, atau cukup disimpan di kepala saja. Terserah kita memilih yang mana, tergantung kebiasaan dan kemampuan masing-masing.

3. Data
Alangkah bagusnya jika tulisan ini kita lengkapi dengan data pendukung. Misalnya: berapa koleksi buku yang telah saya miliki, berapa rata-rata harga buku. Dari total penghasilan saya, berapa rupiah yang dapat saya sisihkan untuk membeli buku. Dan seterusnya. Data ini akan membuat tulisan kita lebih “kaya”.

4. Fokus. Jangan melebarkan topik
Nah, ini adalah masalah yang seringkali tidak kita sadari ketika menulis. Sebab, kita merasa bahwa apa yang kita tulis masih berhubungan dengan tema utamanya, padahal sebenarnya tidak terlalu berhubungan, dan tidak perlu dibahas.

Misalnya begini:
Ketika menulis tentang ide di atas (kendala saya dalam membaca buku), kita tanpa sadar membahas tentang “gerakan gemar membaca yang dicanangkan pemerintah.” Kita uraikan tema ini panjang lebar, ditambah berbagai data penunjang.

Hm, kalau tema ini dibahas sekilas saja, mungkin tidak terlalu masalah, karena justru bisa menjadi penguat argumen kita bahwa membaca itu memang sangat penting. Dan memang, tema “gerakan gemar membaca” ini masih berkaitan erat dengan ide yang sedang kita tulis. Masalahnya adalah, jika kita mulai membahas tema tambahan ini secara panjang lebar, tulisan kita menjadi tidak fokus lagi. Di dalamnya sudah ada dua tema besar yang sama-sama kuat. Dan pembaca nantinya akan bingung, “si penulis ini sebenarnya  sedang membahas apa, sih?”

Sumber: Jonru

Tips menulis di media massa

Tinggalkan komentar

Anda sudah menulis artikel untuk kolom opini di surat kabar namun seringkali di tolak? Atau Anda baru akan memulai untuk mengirimkan artikel ke surat kabar atau majalah ? Tulisan berikut barangkali akan menjembatani beberapa kesulitan sehingga artikel Anda atau analisis Anda bisa sering dimuat.Beberapa ciri dari harian dan majalah penting untuk diingat sehingga saat memulai menulis sudah terbayangkan siapa pembacanya dan bagaimana skope medianya.

Tips di bawah ini tentu tidaklah lengkap dan bukanlah aksioma yang harus diikuti. Namun tips ini sekedar rambu-rambu yang bisa memberikan sedikit panduan mengenai menulis di media massa.

1. Aktual

Surat kabar atau majalah mingguan memiliki ciri utama aktual. Harian seperti Kompas atau Republika sangat terikat dengan waktu. Harian mencerminkan berita dan informasi setiap hari. Berita hari ini akan menjadi basi pada keesokan harinya. Koran hari ini tidak akan menjadi panduan lagi pada keesokan harinya. Jadi artikel dan opini di dalamnya pun harus dan biasanya aktual dengan kejadian yang sedang muncul. Misalnya, artikel mengenai sistem pencarian pesawat hilang akan sangat bermanfaat sekarang untuk menjelaskan mengapa di abad satelit ini sebuah pesawat AdamAir dengan 100 penumpang lebih telah beberapa hari tidak terlacak. Dengan sendirinya sebuah tulisan yang aktual dan lagi hangat dibicarakan kans untuk dimuat akan semakin besar.

2. Ringkas dan Jelas

Selain aktual, sebuah artikel diharapkan oleh pembacanya ringkas dan jelas. Ringkas artinya pembahasannya mengenai sebuah topik dilakukan secara garis besar, tidak sampai detail. Rincian angka atau teori yang teknis tidak perlu dibahas apalagi kajian mengenai teori yang berbeda-beda. Cukup satu pendekatan dan terangkan. Jelas artinya tulisan itu mencerminkan judul. Tulisan di sebuah harian karena biasanya berlaku hanya 24 jam maka uraiannya perlu sebuah kejelasan. Misalnya, tulisan dengan topik skenario hilangnya AdamAir dijelaskan dengan meminjam perbincangan para pakar mulai skenario karena cuaca buruk, skenario ledakan bom dan skenario human error. Perbincangan mengenai topik akan menarim sepanjang pesawat masih belum ditemukan.

3. Paragraf yang jelas

Sebaiknya sebuah artikel menggunakan sub judul dengan paragraf yang jelas. Paragraf mencerminkan langkah-langkah untuk menjelaskan pendapat, atau argumentasi. Sub judul kecil akan sangat membantu pembaca merangkum dengan cepat. Perlu diingat bahwa artikel di media massa bukan uraian akademis maka dibayangkan pula pembacanya bisa menjangkau semua lapias. Editor rubrik artikel ini sadar akan bayangan mengenai pembacanya ketika menerima sebuah artikel. Tidak hanya paragraf itu menjelaskan pembukaan, batang tubuh tetapi juga kesimpulan.

4. Pikirkan panjang tulisan

Sebuah tulisan di surat kabar biasanya berkisar antara empat sampai lima setengah halaman A4 dengan format dua spasi. Empat halaman sudah dianggap cukup tetapi lebih dari enam halaman dianggap bisa terlalu panjang. Ketentuan ini tentu tidak kaku tergantung kondisi pembahasan artikelnya apakah memang sangat menarik perhatian pembaca.

5. Sertakan CV singkat

Sebuah keterangan mengenai siapa Anda akan sangat banyak membantu editor untuk memutuskan apakah artikel ini ditulis seorang awam atau seorang pakar atau peneliti. Seorang spesialis di bidang teknologi penerbangan akan sangat besar kans nya untuk dimuat jika menguraikan soal teknis mengenai hilangnya pesawat AdamAir di Sulawesi Barat. Atau seorang peneliti di sebuah universitas besar di luar negeri juga akan memberikan bobot tersendiri. Namun editor juga tidak tergantung nama besar Anda tetapi juga kualitas dan kuantitas tulisan. Seorang akademisi yang menulis membosankan tidak akan banyak memberi manfaat apalagi disertakan berbagai teori yang “berat”.

6. Gaya tulisan enak dibaca

Gaya tulisan juga akan sangat mempengaruhi keputusan editor artikel. Sebuah tulisan yang diuraikan dengan gaya bahasa yang enak tetapi berbobot mungkin akan dipertimbangkan lebih lama. Untuk menemukan bagaimana gaya menulis Anda tentu dilalui dengan latihan. Meskipun gaya tulisan Anda misalnya masih kaku, asalkan cukup jelas dan ringkas, Artikel anda masih banyak peluangnya.

7 Format yang apik

Tulisan yang berbobot tidak hanya dalam uraian dan sudut pandangnya, tetapi juga dalam cara penyajiannya. Dengan digitalisasi hampir semua surat kabar dan majalah di Indonesia maka menulis dengan komputer merupakan sebuah kemestian. Tantangannya, seringkali error dalam menuliskan istilah atau tanda-tanda baca kerapkali terlewat. Biasakan dengan menulis yang apil sesuai tanda baca dan sesuai bunyi kata. Editor biasanya cepat mengetahui bagaimana tingkat kesungguhan Anda dalam menulis ketika melihat bentuk tulisan dan kesalahan gramatikal atau kesalahan pengetikan kata. Semakin banyak kesalahan menuliskan kata-kata akan semakin cepat disingkirkan dari urutan untuk dimuat.

Tips di atas tentu saja sekali lagi bukan sebuah “pakem” dimuat dan tidaknya sebuah tulisan. Adakalanya karena editor ingin sekali memuat sebuah topik yang lagi hangat dibahas dan sedikit pilihannya maka bisa jadi tulisan Anda pun lolos untuk dimuat meskipun editor harus kerja keras merombak dan mengeditnya.

Sumber: freejournalist

Bagaimana menulis di surat kabar

8 Komentar

NewspaperTulisan itu memfokuskan kepada cara menulis artikel di ruang opini. Sudah banyak diketahui bahwa menulis di ruang opini merupakan peluang terluas bagi para pembaca untuk mengemukakan gagasan dan opininya.

Tidak hanya Anda dapat mengutarakan pandangan mengenai sebuah peristiwa tetapi juga Anda bisa mendapatkan penghargaan berupa imbalan bagi tulisan. Biasanya setiap surat kabar sudah menganggarkan dana khusus bagi para penulis. Ruang artikel tidak hanya merupakan rubrik tetap tetapi juga menghangatkan dan meramaikan tampilan surat kabar. Lebih dari itu, dengan adanya artikel ini – apalagi dari kalangan spesialis – maka pengetahuan pembaca ini juga akan bertambah cepat. Sebuah persoalan duduk perkaranya bisa dipahami dalam sebuah artikel.

Inilah salah satu kegunaan artikel di dalam surat kabar. Tulisan itu “fresh” dan aktual serta tidak jarang menyeluruh dan mendalam. Akan tetapi kekuatan sebuah artikel tidak hanya kepada data yang sedang mengemuka tetapi juga susunan tulisan yang mudah dipahami.

Tulisan ini akan memberikan informasi mengenai bagaimana persiapan yang diperlukan jika memang Anda – apalagi kalangan mahasiswa dan akademisi – mau memanfaatkan media massa sebagai ajang olah fikir dan olah argumentasi.

Pertama, pilih topik yang Anda kuasai. Jika Anda seorang ilmuwan sosial maka sebaiknya memang masalah sosial dan kemasyarakatan yang Anda ungkapkan dalam tulisan di media massa. Dengan latar belakang ini, maka Anda memiliki setidaknya otoritas dalam penulisan. Dengan latar belakang memang di bidang sosial maka dengan sendirinya, Anda diharapkan mengetahui sejumlah pilar penting dalam tata kemasyarakatan, persoalan di dalamnya dan berbagai alternatif yang akan ditawarkan.

Kalau meminjam istilah David Easton dimana masyarakat merupakan sebuah sistem sosial maka akan input berupa tuntutan dan dorongan kemudian diproses di dalam black box (proses sosial) dan kemudian ada output yang berupa hasil dari penyelesaian masalah sosial yang akhirnya merupakan umpan balik untuk input berikutnya. Itulah cara berfikir dari sistem sosial yang dijelaskan dalam teori David Easton. Namun Anda tidak harus terpaku kepada satu dua teori, dalam artikel yang Anda tulis kebebasan sangat terbuka membuat teori dan pandangan baru.

Kedua, pilih topik yang Anda sangat minati. Bisa jadi seseorang yang ahli di bidang peternakan lebih senang menulis sastra. Tidak ada yang salah mengenai ini. Anda masih bisa menulis bidang kritik sastra dengan minat Anda yang menggebu-gebu. Hobi kadang-kadang lebih diperdalam daripada latar belakang pendidikan Anda. Banyak hal terjadi memang dalam kehidupan namun inilah peluang yang Anda bisa gunakan untuk mengisi halaman surat kabar setiap harinya. Minat Anda bisa dibagi dengan pembaca lainnya.

Ketiga, buatlah kliping. Jika Anda berminat pada satu bidang katakanlah keselamatan transportasi, maka sebaiknya memantau data terakhir melalui surat kabar, majalah atau internet untuk dijadikan bahan mentah tulisan Anda. Yang penting adalah data mentah seperti banyaknya kecelakaan, modus kecelakaan dan korban. Dari data ini Anda bisa menyajikan statistik mengenai kecelakaan transportasi darat, laut dan udara sehingga bisa mengulasnya lebih aktual. Mengapa harus kliping? Karena kalau Anda memuat data dari buku teks misalnya, Anda akan ketinggalan karena biasanya di buku-buku teks itu datanya sudah lama. Data kependudukan dam kemiskinan di Indonesia misalnya, itu bisa didapatkan dari pengumuman Badan Statistik Nasional. Kliping bisa berbentuk digital karena sekarang sudah modern tetapi juga bisa berupa lembaran kertas yang disimpan dalam folder khusus.

Keempat, membuat perencanaan. Ada kalanya sebuah tulisan lahir dari perencanaan yang baik. Jika Anda tahu Hari Dirgantara atau Hari Ibu maka sebuah karya tulis bisa disusun untuk memperingati hari bersejarah itu. Tentu harus dibuat terlebih dahulu apa yang akan diulas dan bagaimana Anda menyusun argumentasinya. Sangat penting Anda membuat outline mengenai gagasannya terlebih dahulu sehingga nanti menuliskannya lebih mudah. Sebaiknya tulisan juga menyertakan data yang aktual dan kutipan yang berbobot apakah dari ilmuwan atau tokoh penting.

Empat hal itu barangkali merupakan pembukaan bagi Anda untuk menulis secara reguler di dalam media massa. Terlihat sederhana namun jika diperhatikan maka akan terasa sekali pentingnya. Jika ada keahlian dan minat, misalnya, Anda sulit menuangkan karya dan gagasan Anda dalam penulisan. Menguasai materi sangat penting untuk penulisan yang berjangka panjang. Kecuali Anda hanya menulis satu kali setahun untuk media, maka tidak perlu ada rencana yang rinci.

Sumber: journalist-adventure

UNDANGAN – BENGKEL JURNALISTIK 2007 – MANCHESTER

1 Komentar

Assalamu’alaykum warahmatulLahi wabarakatuh,
Salam Persahabatan, 

Sahabat-sahabat di Inggris ykh.,

Bersama ini perkenankan kami, Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera di United Kingdom dan Pengajian Lokaliti Manchester, mengundang sahabat semua untuk mengikuti program yang bertajuk ‘ Bengkel Jurnalistik 2007‘ di Manchester. Tujuan dari acara ini adalah memberikan bekalan praktis bagi kita yang ingin menghasilkan tulisan yang efektif untuk dipublikasi oleh media massa melalui konsultasi dan tukar pengalaman.

Detail program, tempat dan waktu adalah sebagai berikut:

Nama Program: Bengkel Jurnalistik 2007

Tempat:       Cheetham Community School (Primary School)
              Halliwell Lane
              Cheethamhill
              Manchester
              M8 9FR

Waktu:        Sabtu, 21 April 2007
              Pukul 10.00 s/d 17.00

Daftar Acara:
10.00-10.45   Kedatangan & Penerimaan

10.45-11.00   Pembukaan

11.00-11.45   Sesi 1 Media Massa: Sebuah Pengantar
              Asyari Usman, Koresponden Senior BBC

11.45-11.40   Break

11.50-12.35   Sesi 2 Teknis Menulis di Media Massa (I)
              Maimon Herawati, wartawati Ummi dan novelis

12.35-13.30   Sholat & Makan Siang

13.30-14.15   Sesi 3 Teknis Menulis di Media Massa (II)
              Yeyen Rostiyani, wartawati Republika

14.15-14.20   Break

14.20-15.05   Sesi 4 Penulisan Ilmiah Populer untuk Media Massa
              Yanuar Nugroho, Peneliti dan Kandidat PhD, telah
              mempublikasi banyak tulisan di berbagai media massa (
http://audentis.wordpress.com)

15.05-15.10   Break

15.10-17.00   Workshop
              Dipandu oleh Asep Setiawan, Maimon Herawati,
              Yeyen Rostiyani,Yanuar Nugroho, Bambang Soesila
Biaya:        5 pon tiap peserta Kontak:       Iwan Effendi – 07761 811 555
              Epa Yonedi – 07921 465 431
              Zukni Legowo – 07921 390 214

Dikarenakan keterbatasan tempat, maka jumlah peserta dibatasi 20 orang. Peserta insya Allah akan mendapatkan sertifikat, buku catatan, makan siang, makanan dan minuman ringan.

Untuk mendaftar atau informasi selanjutnya, silakan hubungi Iwan Effendi melalui telepon (07761 811 555) atau e-mail ke prolingua.geo@….

Atas perhatian sahabat-sahabat semua, kami mengucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
Iwan Effendi
Ketua Panitia
Bengkel Jurnalistik 2007

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.